Sejarah Pengangkat Tuhan
|
Sebelum
abad ke IV para pemimpin Gereja disibukkan dengan bagaimana memformulasikan
hubungan yang tepat antara Allah dan Yesus. Hubungan tersebut berkisar pada
kedudukan Tuhan sebagai Bapak, dan Yesus sebagai Anak Tuhan. Atau hubungan
antara Allah sebagai Tuhan yang Mulia, Baka dan Sempurna dengan Logos dari
Allah sebagai perantara Tuhan dan manusia. Oleh karena itu sampai dengan awal
abad ke IV para pemimpin Gereja umumnya masih berpendirian bahwa Tuhan Allah
adalah satu-satunya Tuhan yang wajib didembah. Kalau pun Yesus sudah mulai
dikultuskan, masih dalam koridor Anak Allah atau Logos, dan bukan Tuhan.
Arius misalnya, hanya mengakui Bapa (Allah) sebagai satu-satunya Tuhan, dan
menganggap Yesus sebagai makhluk. Keadaan berubah secara drastis ketika
Kaisar Romawi, Constantine, menyatakan masuk Kristen tahun 312 M. masuknya
Kaisar ini disambut dengan semangat yang berapi-api oleh umat Kristen saat
itu. Kaisar menetapkan Kristen sebagai agama Kerajaan. Walaupun hal ini
disambut dengan gembira, beberapa kalangan saat itu mengkhawatirkannya.
Jalan menuju Ketuhan Yesus tidaklah mulus, malah penuh dengan pertumpahan
darah. Namun ajaran Trinitas dari agama Mesir dan Babilonia, yang kemudian
diidealkan oleh Plato, yang kemudian dianut oleh para pemimpin Gereja,
menyebabkan lahirnya bibit-bibit pendukung Trinitas dalam Gereja Kristen.
Mereka inilah yang berjuang mati-matian memasukkan ajaran Trinitas kedalam
Kristen yang dimulai dengan upaya mempertahankan Yesus. Salah seorang
tokohnya adalah Athanasius.
Ketika Constantine menjadi Kaisar Romawi, secara terbuka dia menyatakan diri
sebagai pendukung Athanasius yang dianggapnya sesuai dengan latar belakang
filsafat Yunani yang dia anut. Untuk menghabisi paham tauhid Arianisme,
Kaisar menyarankan istilah "homoousios" yang pengertiannya adalah
"Yesus satu zat denqan Allah".
Athanasius dibesarkan di Mesir, daerah yang sangat subur ajaran Trinitasnya.
Di Mesir penduduk menyembah tiga Tuhan dalam satu: Osiris, Isis dan Horus.
Disamping itu, ajaran Filsafat Platonis dan Stoa juga berkembang pesat di
Alexandria, dimana Athanasius tinggal mengidealkan Trinitas agama Mesir. Bagi
Athanasius yang sudah terbiasa di alam tiga Tuhan, ajaran tauhid para
pengikut Kristen saat itu dirasakannya sangat mengganggu. Oleh karena itu
arus masuknya para penyembah berhala ke dalam Kristen serta didukung Kaisar
Romawi untuk mengawinkan ajaran Kristen dengan ajaran penyembah berhala di
kerajaan, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Athanasius untuk menghabisi ajaran
tauhid yang masih bercokol di kalangan Kristen. Menurut filsafat Yunani,
walaupun Tuhan sangat ingin menyelamatkan manusia, namun tidak mungkin
langsung dapat melakukannya. Untuk menyelamatkan manusia, Tuhan menggunakan
perantara yakni Logos. Karena pemimpin Gereja menginginkan Yesus sebagai
Logos, sehingga Yesus selanjutnya harus menduduki posisi Logos. Inilah yang
diperjuangkan oleh Athanasius agar Yesus menduduki posisi baru sebagai Logos
penyembah berhala yang akan menjalankan fungsi Anak Tuhan dan Juru Selamat.
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Allah
tidak pernah mengangkat Yesus sebagai Tuhan, Sebenarnya yang mengangkat Yesus
sebagai Tuhan adalah orang-orang Kristen di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).
LAI melencengkan terjemahan "Kyrios" dan "Lord" dalam
Injil.
Sekarang logikanya saja, untuk apa Allah membuat Tuhan???
Dalam agama Tauhid pernyataan ini tidak ada jawabannya. Tetapi bagi penyembah
berhala Platonis dan Stoic, Tuhan yang mulia harus membuat Logos untuk
menyelamatkan dunia yang berdosa.
Dalam Alkitab dengan jelas dapat dibedakan. Kalau ayatnya mengatakan Allah
Juruselamat kita, berarti itu adalah sisa-sisa yang masih terdapat dalam
Alkitab. Tetapi kalau ayatnya mengatakan Yesus Juru selamat kita berarti
ajaran penyembah berhala telah merasuk dalam Alkitab.
Pada saat Lembaga Alkitab Internasiaonal menerjemahkan Alkitab bahsa Yunani
kedalam bahasa Inggris, kata "Kyrios" yang berarti
"Tuan/Boss" diterjemahkan menjadi "Lord" atau
"Sir" yang juga berarti "Tuan/Boss".
Misalnya :
Land Lord = Tuan Tanah
Drug Lord = Tuan/Boss Obat terlarang
Gambling Lord = Tuan/Boss Judi
Lord of the Universe = Tuan Alam Semesta (Tuhan).
Namun Lembaga Alkitab Indonesia bukannya menerjemahkan "Kyrios" dan
"Lord" sebagai "Tuan" tetapi "Tuhan". Memang
untuk ini, LAI tidak perlu bekerja membanting tulang. Cukup dengan
membubuhkan huruf "h" di tengah¬tengah kata "Tuan" maka
sim salabim, seorang makhluk dalam sekejap berubah menjadi Khalik (Pencipta).
Dengan cara ini Lembaga Alkitab Indonesia dengan sengaja telah merubah Yesus
"Tuan/Pemimpin umat Israel menjadi "Tuhan yang olehnya segala
sesuatu telah dijadikan", persis seperti Logos penyembah berhala
Platonis. Terjemahan yang dipaksakan ini akhirnya menjadi janggal di telinga
mereka yang mendengarnya. Apalagi ketika kata "Tuhan" diterapkan
kembali ke pasangan kata seperti diatas, maka artinya menjadi lain.
Land Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Tanah. Gambling Lord tentu
sudah tidak sama dengan Tuhan Judi.
Kalau Lord of the Universe dapat saja berarti Tuan atau Tuhan, karena Tuan
semesta alam adalah Tuhan. Disinilah letak ketidak-jujuran Lembaga Alkitab
Indonesia dalam menerjemahkan Alkitab dengan benar.
Sebagaimana diketahui, kata Tuan digunakan untuk manusia, terkecuali Tuan
semesta alam adalah Tuhan. Tetapi kata "Tuhan" sudah jelas tidak
digunakan untuk manusia, terkecuali bagi para penyembah berhala.
Peratikanlah kejanggalan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia atas kata
"Kyrios" dan "Lord" yang diterjemahkan sebagai Tuhan.
"Tuhan, Enqkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..."
(Yohanes 4:11)
"Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi" (Yohanes
4:19) "Siapakah Engkau, Tuhan?" (Kis. 9:5)
Coba bayangkan, untuk apa timba bagi Tuhan? Yang perlu timba hanyalah
manusia! Selanjutnya, dari mana perempuan Samaria tahu bahwa yang perlu timba
dihadapannya adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta? Sungguh aneh, untuk
"memberi makan 5.000 orang" Tuhan mampu, sementara untuk memperoleh
seteguk air saja, Tuhan harus menunggu diberi timba.
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Perhatikanlah
ayat berikut ini (Yohanes 4:11) dalam teks bahsa Inggris di berbagai versi Alkitab
:
1. "Sir," the woman said,'you haven't qot a bucket..."
(Good News Bible, 1976)
2. "The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw
with..."
(Holy Bible Authorized King James Version)
3. "Sir" she challenger him, "You do not have bucket..."
(The New Testament of the New American Bible, 1970)
4. "She said to him: "Sir, you have not even a bucket..."
(The Kingdom Interlinear Translation of The Greek Scroptures, 1985)
5. "The woman said to Him, "Sir, you have nothing to draw
with,..."
(New Tastament, Psalms, Proverbs, 1982)
6. "The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw
with..."
(The First Scofield Reference Bible, 1986)
Dari ayat-ayat yang dikutip dari berbagai versi Alkitab bahasa Inggris
diatas, nyata dan jelas bahwa penggunaan kata Sir adalah identik dengan kata
Lord yang artinya Tuan, bukan Tuhan (God)!
Perlu disadari bahwa tidak ada satu pun kamus bahasa inggris di muka bumi ini
yang menerjemahkan kata "Sir" sabagai "Tuhan"!
Dalam Yohanes 4:19, perempuan Samaria tersebut menyebut Tuhan sebagai orang
yang artinya menyamakan Tuhan Pencipta (Khalik) dengan yang dicipta
(makhluk). Padahal dalam berbagai versi Alkitab berbahasa Inggris Yesus dalam
ayat ini disapa dengan Sir atau Tuan, bukan Tuhan!
Yang lebih aneh lagi adalah pertanyaan Paulus dalam Kis.95. "Siapa
Engkau, Tuhan?". Kalau Paulus benar-benar bertanya demikian, kita tentu
wajar mempertanyakan: Apakah Paulus sudah pikun atau tidak waras?". Lucu
amat Paulus sebagai pendiri agama Kristen tidak tahu dan masih bertanya siapa
Tuhannya. Ini sungguh keterlaluan!
Tetapi kalau kata "Kyrios" atau "Lord" diterjemahkan
dengan kata "Tuan", kan enak dan pas dibaca.
"Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..."
(Yohanes 4:11)
"Tuan, nyata sekaranq padaku bahwa Engkau seoranq Nabi" (Yohanes
4:19)
"Siapakah Engkau, Tuan?" (Kis. 9:5)
Camkanlah istilah tepat yang digunakan Yesus untuk dirinya sendiri.
"Janqanlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu,
yaitu Mesias (Yesus)" (Matius 23:10)
Kalau memang Yesus adalah Tuhan tentu beliau akan berkata: "Janganlah
pula kamu disebut Tuhan, karena hanya satu Tuhanmu yaitu diriku (Yesus)"
Oleh karena itu sangat menyedihkan betapa tokoh besar seperti Hamran Ambrie
bisa keliru dan disesatkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Padahal maksud
ayat tersebut adalah: "Allah menjadikan Yesus sebagai tuan/pemimpin dan
rasul untuk Bani Israil.
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Lalu Kapan
S. K. Ketuhan Yesus ditetapkan, dan oleh siapa?
S.K. Ketuhan Yesus ditetapkan pada konsili di Nicea tanggal 20 Mei 325M. Kaisar
Romawi Constantine, menghimpun 220 uskup di Nicea tahun 325. Sebagian besar
mereka berasal dari Gereja bagian Timur yang mendukung Athanasius. Kosili
memutuskan mengutuk paham tauhid Arius dan mengumumkan kredo (creed) anti
Arian yang dikenal dengan nama "the Creed of Nicea". Dalam konsili
inilah diterbitkan S.K. Ketuhan Yesus dan sejak saat itu Yesus diresmikan
sebagai Tuhan, malah sekaligus ditetapkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya
(true God), 300 tahun setelah Yesus tiada. Dalam konsili inilah Kaisar Romawi
menetapkan bahwa Yesus satu zat dengan Allah (Homoousios).
"He (Jesus) is God from God, Light from Light and true God from true
God"
(Dia (Yesus) adalah Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari
Cahaya, dan Tuhan Sesungguhnya yang berasal dari Tuhan yang sesungguhnya)
Sejak saat itulah Tuhan menjadi dua yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus yang
harus dipercayai bahwa keduanya bersatu padu dalam satu zat (homoousios)
sebagaimana yang diputuskan oleh Kaisar Romawi.
Apakah ada ketetapan resmi untuk menyembah Yesus sebelum abad ke IV?
Belum ada! Dalam kitab "Shepherd of Hermes" nama Yesus sama sekali
tidak disebut-sebut.
• "First of all( belive that God is one, who hs made all thing, bringing
them out of nothing into being".
(Pertama-tama percayalah bahwa Tuhan itu Esa, yang menciptakan segala
makhluk, dari tidak ada menjadi ada)
Selanjutnya dalam Apostle Creed yang menurut Gereja ditulis oleh para rasul
diperkirakan ditulis pada akhir abad ke II, ada menyebut nama Yesus, tetapi
bukan sebagai Tuhan yang disembah.
"And in Jesus Christ, his onl y Son, our Lord..."
(Dan di dalam Yesus Kristus, anaknya yang tunggal, tuan kita)
Kredo ini telah mengalami beberapa kali tambahan dan perubahan sepanjang abad
ke IV dan ke V untuk disesuaikan dengan perkembangan ajaran kristen.
Kesulitan apakah yang dihadapi Gereja sehingga dibutuhkan waktu sekian ratus
tahun untuk mengangkat status Yesus dari sekedar Nabi menjadi "Tuhan
penguasa alam semesta"?
Pertama, di abad pertama perkembangan agama Kristen, persoalan yang cukup
berat muncul di permukaan. Bagaimana caranya agar Tuhan Filsafat Yunani yang
Mulia, dan sempurna, dapat menyelamatkan manusia yang berdosa dan tidak
sempurna. Untuk mengatasi hal ini, logos filsafat Yunani digunakan sebagai
perantara Tuhan dan manusia. Beberapa ahli pikir Yunani yang memeluk agama
kristen memandang Yesus sebagai Logos filsafat Yunani (Frost, 1989).
"Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita..."
(Yohanes 1:14)
"...Kristus Yesus yanq walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah, itu sebaqai milik yanq harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seoranq
hamba dan menjadi sama denqan manusia" (Filipi 2:5-7)
Tetapi karena Logos bukan Tuhan sehingga otomatis Yesus pun bukan Tuhan.
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Kedua,
ketika Gereja mulai berusaha mengangkat status Yesus menjadi Tuhan, problem
lain tampil ke permukaan. Bagaimana caranya mengangkat status Logos yang
lebih rendah dari Tuhan ini menjadi setara dengan Tuhan. Untuk mengatasi hal
ini, Gereja memperkenalkan ide Logos (Firman) adalah Tuhan Allah.
"Pada mulanya adalah Firman Logos Firman Logos itu bersama-sama dengan
Tuhan dan Firman Logos itu adalah (dari) Allah. la Logos pada mulanya
bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia Logos dan tanpa
Dia (Logos) tidak ada sesuatu pun yanq telah jadi dari seqala yanq telah
dijadiakan" (Yohanes 1:1-3)
Paham penyembah berhala ini digunakan sebagai senjata pamungkas oleh para
penginjil (Termasuk Hamran Ambrie) untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan
dengan menempatkan Yesus sebagai Logos penyembah berahala. Dengan demikian,
tuhan Allah (yang "katanya" adalah Logos) yang berada di sorga
sudah turun ke bumi mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus.
Dalam buku "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal", hal 94,
Hamran Ambrie mengatakan:
"Dulu wahyu melalui mimpi etc. disebut Firman, tetapi kemudian (setelah
ajaran Kristen dicemari filsafat Yunani), Firman itu sendiri menjadi daging
kehiduopan melalui kelahiran seorang manusia Maria, maka penyebutan firman
itu pun berubah menjadi "Anak Allah".
Catatan : tambahan dalam kurung dimaksudnya untuk memperjelas.
Konsep penyembahan berhala sudah ranum ini, akhirnya tersaji dalam SK
Ketuhanan Yesus yang disponsori bersama oleh Kaisar Romawi, Constantine dan
para pemimpin Gereja pada Konsili di Nicea 20 Mei 325 M.
Dapatkah kita menganggap the Creed of Nicea sebagai formulasi dan definisi
Trinitas?
Tidak! Karena Konsili tidak pernah menganggap Roh Kudus sebagai Tuhan atau
sesuatu yang harus disembah. Dalam konsili tersebut tidak pernah dibahas
tentang Roh Kudus. Nanti belakangan, Gereja kemudian menambahkan kalimat
tentang Roh Kudus dalam kredo tersebut (Karen Armstrom 1993). "And in
the holy Spirit" (Dan dalam Roh Kudus).
Lalu siapa yang pertama memberikan perhatian serius terhadap status Roh
Kodus?
Athanasius!
Sampai dengan pertengahan abad ke IV perhatian Gereja dicurahkan pada
bagaimana bentuk dan corak hubungan antara Bapa (Tuhan) dan Anak (Yesus).
Kalimat yang baru ditambahkan dalam Kredo: dan dalam Roh Kudus, memperlihatkan
betapa kecilnya perhatian yang diberikan terhadap status Roh Kudus. Dalam
tulisannya "Oration Aqainst the Arians 2:24, 33", athanasius
mempromosikan ketuhanan Yesus tanpa menyinggung-nyinggung Roh Kudus.
Selanjutnya pada suratnya kepada Serapion berubahlah dia berbicara tentang
status Roh Kudus.
......
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
S.K. untuk
menyembah Roh Kudus di tetapkan?
Pada Konsili di Konstantinople yang didelenggarakan dari bulan Mei s/d Juli
381M. Konsili ini dapat dikatakan Konsili para pemimpin Capadocian yang mendukung
Trinitas. Gregory dari Nazianzus (329-389M), yang merupakan tokoh Capadocian
memperkenalkan formula Trinitas dalam bukunya "Five Theological
Oration", hal. 39:
".... Godhead is one in three and the three are one.... "
(Kesatuan Tuhan itu adalah satu dalam tiga dan ketiganya adalah satu)
Dia memainkan peranan penting dalam menggolkan ajaran Trinitas dalam konsili.
Kaisar Theodorius yang merupakan pendukung Ketuhanan Yesus ingin sekaligus
menghabisi paham Tauhid Arius. Dalam konsili inilah untuk pertama kali
dinyatakan bahwa Roh Kudus harus disembah.
"And in the Holy Spirit, the Lord and life giver, who proceeds from the
Father. Toqether with the Father and the son he is worshipped and
glorified".
(Dan dalam Roh Kudus, Tuan dan pemberi hidup, yang datang dari bapa. Bersama
dengan Bapa dan Anak dia disembah dan dimuliakan).
Jadi, apakah Konsili di Constantinople memutuskan bahwa Roh Kudus adalah
Tuhan?
Tidak! Walaupun dalam Konsili ini Roh Kudus dinyatakan sebagai obyek yang
disembah, tetapi belum dinyatakan sebagai Tuhan.
Konsili ini juga dihadiri oleh 36 Uskup Macedonia yang menentang keras segala
bentuk penyenbahan terhadap Roh Kudus. Mereka berpendirian bahwa Roh Kudus
hanyalah makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu dia bukan Tuhan, sehingga
tidak perlu disembah. Namun karena para uskup Capadocia jumlahnya lebih
banyak sehingga para uskup Macedonia kalah. Dalam penentuan apakah Roh Kudus
adalah Tuhan atau tidak, bantahan mereka masih didengar. Namun ketika para
uskup Capadocia ngotot untuk menyembah Roh Kudus, akhirnya para uskup
Macedonia menyerah dan meninggalkan ruangan konsili (walk out).
Lalu kapan ide lengkap tentang Trinitas pertama kali dijelaskan oleh
Athanasius?
Antara tahun 359-360M ketika Athanasius didesak untuk menghadapi kelompok Tropici
dari Mesir yang mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya sekedar makhluk yang
diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Uskup mereka, Serapion, yang tidak
mampu menghadapi mereka meminta tolong pada Athanasius. Dalam suratnya
"Letter to Serapion", Atahnasius untuk pertama kalinya menjelaskan
secara detail tentang Teologi Trinitas.
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Apakah
Athanasian Creed merupakan formulasi yang ditampilkan oleh Athanasius kepada
Serapion?
Tidak! Athanasian Creed bukanlah sebuah kredo dan juga tidak ditulis oleh
Athanasius. Gereja yang tidak tahu siapa penulis Athanasian Creed,
menganggapnya di tulis oleh Athanasius hanya karena dia dianggap sebagai
pencipta ajaran Trinitas.
Athanasian Creed yang diperkirakan ditulis pada abad ke VI menetapkan sesuatu
yang dapat dianggap sebagai formulasi dan fefinisi akhir dari Trinitas.
Ketetapan penting yang tercantum dalam Kredo ini adalah diumumkannya S.K.
Ketuhanan Roh Kudus.
"Thus the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God. Yet
there are not three God but only one God".
(Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun
bukan tiga Tuhan tetapi hanya satu Tuhan.)
Yesus sama sekali tidak dapat menerima mereka yang menyembahnya, dengan
mengikuti ajaran penyembah berhala yang di ajarkan manuasia (Plato dan Zeno).
Sementara Yesus sendiri mengajarkan pada umat Israel untuk hanya menyembah
Allah.
"Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari
padaku. Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan a jaran yang mereka
ajarkan ialah perintah manusia" (Matius 15:8-9)
Berbagai kredo yang dihasilkan oleh konsili bukan merupakan penjelasan atau
konfirmasi dari Allah atau Yesus tentang siapa Tuhan sebenarnya, melainkan
sekedar pertarungan antar pendapat yang selalu dimenangkan oleh kelompok yang
didukung Kaisar. Hal ini dijelaskan oleh Uskup John Shelby Spong dalam
bukunya: Why Christian must Change or Die, 1998, hal 18.
"The purpose of every written creed historically was not to clari f y
the truth o f God. It was, rather, to rule out some contending point o f
view."
(Tujuan dari setiap kredo (yang dihasilkan di setiap konsili) bukan untuk
menjelaskan siapa sesungguhnya Tuhan, tetapi sekedar untuk menyingkirkan
pendapat yang tidak sejalan (dengan yang dianut Kerajaan dan Gereja)
Oleh karena itu Yesus tidak punya urusan dengan ajaran maupun definisi
Trinitas sebagaimana yang dianut oleh umat Kristiani saat ini. Yesus tidak
pernah mengajarkan Trinitas kepada murid-muridnya, apalagi bermimpi bahwa
dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas. Hal ini ditegaskan oleh A.N.Wilson
dalam bukunya Jesus A Live, 1992, hal XIV:
"I had to admin that I found it impossible to believe that a f irst
century Galilean holy man (Jesus) had at any time o f his li f e believed
himsel f to be the Second Person o f the Trini ty. "
(Saya harus mengakui bahwa memang musthahil untuk mempercayai bahwa orang
suci dari Galilea di abad I (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya merasa
dirinya sebagai oknum kedua dari Trinitas)
Gerejalah yang menciptakan Matius 28:19 dan menyuapkannya kepada Yesus untuk
diucapkan.
"Karena itu pergilah, jadikanlah senua bangsa muridKu dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus".
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Apa yang
diajarkan oleh Yesus adalah tauhid (Ke-Esa-an Allah).
Filsafat Platonis dan Stoic yang diajarkan Plato (?-347 SM) dan Zeno (?-263
SM) tentang Logos menjadi jembatan untuk mempertuhankan Yesus menuju konsep
Trinitas yang dinanti-nantikan para penyembah berhala untuk dikawinkan dengan
ajaran Kristen. Ajaran tiga Tuhan dalam satu yang dianut para penyembah
berhala inilah yang menginspirasi para pemimpin Gereja unutk mengembangkan
ajaran tersebut dalam Kristen. Upaya para pemimpin Gereja yang saat itu
dikenal dengan golongan Apologis untuk mengawinkan ajaran filsafat Yunani
dengan ajaran Kristen dijelaskan oleh Paul Tilich dalam bukunya A History of
Christian Thought sebagai berikut:
"The Apologist arose to attempt a joining of Christianity dan Greek
thought"
(Para pemimpin Gereja yang umumnya Aplogis (mereka yang ingin mengawinkan
filsafat Yunani dengan ajaran Kristen) bangkit untuk mencoba mengawinkan
ajaran Kristen dengan filsafat Yunani)
Di satu pihak umat Kristen memiliki Yesus yang diambil dari Yahudi, sememtara
dipihak lain, para pengikut ajaran Platonis dan Stoic memiliki Logos yang
diambil dari Plato (?-347 SM) dan zeno (?-263 SM). Hasil akhir dari perpaduan
keduanaya yang diterima oleh umat Krsistiani adalah Logos Yesus. Yesus bukan
lagi sekedar seorang Nabi Isa untuk bani Israel, tetapi sudah berubah menjadi
Yesus baru yang penuh dengan embel-embel Platonis dan Stoic- Yesus Kristus
anak Allah, perantara antara Tuhan dan manusia, Tuhan dan juru selamat.
Athanasius kemudian menambahkan satu Tuhan lagi yakni Roh Kudus untuk
melengkapi Ketuhanan Kristen menjadi Tiga dalam Satu (Trinitas), persis
seperti ajaran Ketuhanan Agama Mesir, dimana Athanasius berdomisili.
Pengaruh agama Mesir terhadap Kristen dijelaskan oleh Cave sebagai berikut:
"The Trinity was a major preoccupation of Egytian theologians.... Three
gods are combinet and treated as single being, addressed in the singular. In
this way the spiritual force of Egyptian religion shows a direct ling with
Christian theology"
(Trinitas merupakan paham utama para penganut agama Mesir.... Tiga Tuhan
bersatu dan diperlakukan sebagai satu, yang disebut esa. Dalam hal ini nampak
kekuatan spiritual agama Mesir yang langsung mempengaruhi agama Kristen)
Apa saja yang ditetapkan oleh Kaisar Romawi dan para pemimpin Gereja dianggap
benar, sah dan berlaku untuk umat pada saat itu. Kebenaran dalam Kristen
berubah dari satu konsili ke konsili lainnya. Kebenaran sangat tergantung
kepada golongan mana yang mayoritas dalam konsili, atau golongan mana yang
didukung oleh Kaisar Romawi. Oleh karena itu, kutuk mengutuk dalam setiap
konsili merupakan hal yang lumrah. Ignatius dalam suratnya kepada orang-orang
Smyrna mengatakan:
"Where the bishop is, there the congregation should be Prophets who
appear may be riqht or wrong, but the bishop is right, because the bishop
were the representative of the true doctrine"
(Apa saja pendapat sikap uskup, jemaat harus mengikutinya. Para Nabi boleh
benar atau salah, tetapi uskup selalu benar, karena uskup adalah yang
mewakili ajaran yang benar)
|
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Keputusan-keputusan
Gereja yang di luar ajaran Yesus dilindungi oleh hukum keimanan
(regulafidei). Apa yang sudah diyakini dan diucapkan oleh pemimpin Gereja
menjadi hokum yang mutlak berlaku, walaupun tidak ada dasarnya atau tidak
sejalan dengan Alkitab.
Alhasil ajaran Trinitas tumbuh subur dan berkembang dari satu konsili ke
konsili lainnya, bukan karan ajaran Trinitas merupakan ajaran yang dipetik
dari ajaran murni Yesus, tetapi karena kaisar Romawi mendukung ajaran ini
menjadi ajaran resmi kerajaan.
Mereka hidup siang malam dengan Yesus. Saudara-saudaranya, ibunya, familinya
melihat Yesus lahir dan tumbuh sebagai seorang bayi. Dalam kenyataan seperti
itu, mereka tentu tidak mungkin membayangkan bahwa yang menangis dalam ayunan
atau basah guritanya adalah Tuhan yang pernah berpartisipasi dalam penciptaan
jagat raya atau penguasa alam semesta. Begitu pula murid-murid seta para
pengikutnya. Mereka melihat Yesus sebagai seorang Rabi (guru) mengajarkan
Taurat dan berkhotbah di rumah ibadat setiap hari sabtu. Dari berbagai sumber
yang dapat diperolah, tidak satu pun pertanda bahwa Yesus pernah disembah
sebagai Tuhan di Rumah Ibadat. Murid dan pengikutnya mengenal dirinya sebagai
pemimpin mereka, sebagai tuan mereka, malah sebagai nabi, tetapi sama sekali
mereka tidak akan pernah menganggap bahwa yang naik berkhotbah di mimbar
adalah "Tuhan penguasa alam semesta."
"Dan mereka berusaha menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada oranq
banyak karena orang banyak itu mengangap dia nabi".(Matius 21:46)
Yesus telah mengajarkan syahadah sebagai pegangan bagi murid-murid dan
pengikut-pengikutnya agar tidak tercampak ke neraka.
"Inilah hidup yang kekal itu (masuk sorqa), yaitu bahwa mereka menqenal
Engkau (Allah) satu-satunya Tuhan yang benar. Dan mengenal Yesus Kristus yang
Engkau utus".(Yohanes 17:3)
Apakah benar bahwa Yesus bukan Tuhan yang harus di sembah?
Jawab Ya, benar!
1. Yesus mengajari umatnya agar hanya menyembah Allah. Dia tidak pernah
memerintahkan murid-muridnya untuk menyembah dirinya dengan alasan bahwa
Allah berada di dalam dirinya.
"Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah
Engkau berbakti" (Matius 4:10)
" Karena itu berdoalah demikian:'Bapa kami yang di sorga"'(Matius
6:9)
2. Yesus adalah guru Yahudi yang mengajarkan Taurat untuk hanya menyembah
Tuhan Allah.
"Denqarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu
esa".(Markus 12:29)
Kata "Tuhan itu Esa" berarti Tuhan tidak ada dalam diri Yesus.
Andaikata Tuhan itu adalah dirinya, atau ada dalam dirinya, maka dengan tegas
beliau akan mengatakan "Tuhan ini" sambil menunjuk dirinya.
3. Ketika Yesus akan ditangkap di taman Getsemani semua muridnya lari
meninggalkan beliau.
"Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri" (Markus
14:50)
Coba bayangkan! Ketika "Tuhan" dalam keadaan genting mereka semua
lari meninggalkan dia. Kepada siapa murid-muridnya mencari perlingdungan?
Kepada setan? Bukankah yang mereka tinggalkan adalah Tuhan? Padahal
"katanya" segala kuasa di sorga dan di bumi telah diserahkan oleh
Tuhan Allah kepada "Tuhan" Yesus?(Matius 28:18)
|
MUTIARA
Indonesia
|
|
|
|
Mar 26,
2008
Kalau
memang murid-murid Yesus yakin bahwa Yesus adalah Tuhan Penguasa Alam
Semesta, dimana segala kuasa disorga dan di bumi sudah diberikan kepada
beliau, untuk apa mereka lari?
Ini ikut membuktikan bahwa Matius 28:18 adalah ayat palsu yang tidak pernah
diucapkan oleh Yesus.
Disinilah akal sehat yang dianugrahkan Allah perlu digunkan untuk menyaring
mana yang masuk akal, mana yang tidak. Kalau Tuhan berkehendak, sekali tiup
saja, tentara Romawi sudah berterbangan seperti kertas di hembus badai.
Tetapi tidak! Mereka menyadari bahwa Yesus adalah pemimpin mereka. Namun
mereka tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan yang mereka sembah.
Buktinya dalam keadaan kepepet, mereka lebih memilih menyelamatkan diri dan
membiarkan "Tuhan" mereka ditangkap dan dihukum salib oleh tentara
Romawi.
Syahadat Nicea:
Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem
Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa,
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan
Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum,
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal,
Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang.
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat
dengan Bapa
per quem omnia facta sunt.
segala sesuatu dijadikan olehnya.
Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis.
Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita.
Et incarnatus est de Spiritu Sancto
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus
ex Maria virgine et homo factus est.
dari Perawan Maria dan menjadi manusia.
Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato,
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus
passus et sepultus est.
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan.
Et resurrexit tertia die secundum Scripturas.
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci.
et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris.
Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa
Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos,
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati;
cuius regni non erit finis.
KerajaanNya takkan berakhir.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem,
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan;
qui ex Patre (Filioque)* procedit.
Ia berasal dari Bapa (dan Putra)*
Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur:
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan.
qui locutus est per prophetas.
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi
Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katholik* dan apostolik.
Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum.
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa.
Et expecto resurrectionem mortuorum,
Aku menantikan kebangkitan orang mati,
et vitam venturi saeculi. Amen.
dan kehidupan di akhirat. Amin.
|